Asadha – Hari Memutar Roda Dharma

Hari raya Asadha, diperingati 2  bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati 3 peristiwa penting :

1.  Buddha membabarkan Dharma pertama kalinya kepada 5 teman seperjuangan pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, Sarnath dekat Benares pada tahun 588 S.M.

2.  Buddha bersama Panca Vagiya membentuk Ariya Sangha untuk pertama kalinya.

3.  Melengkapi  Tiratana/Triratna dengan terbentuknya Sangha  ( Buddha, Dhamma, dan Sangha ).

Asadha tahun 2011 ini jatuh pada 15 Juli, dan kemudian diikuti sehari setelahnya, yaitu 16 Juli, merupakan awal masa Vassa bagi para bhikkhu (masa para bhikkhu melakukan retreat untuk melatih dan membina dirinya selama tiga bulan).

BAGAIMANA TERJADINYA ASADHA?
Buddha menimbang, manusia sangat senang kenikmatan dan menjauhi kesengsaraan, tentu sulit memahami dharma yang telah diperoleh-Nya. Brahma Sahampati, penguasa dunia muncul sambil merangkap kedua tangannya memohon Buddha agar mengajakan dharma dan berkata “Ada mahluk-mahluk dengan sedikit debut pada matanya yang akan tertolong dengan mempelajari dharma, menyadarkan mereka yang selama ini menganut ajaran keliru.”

Terdorong oleh kasih sayang, Buddha mengamati dunia melihat pelbagai tingkatan pembawaan dan kemampuan para mahluk, lalu berkata “Terbukalah pintu menuju kekekalan, hendaknya mereka yang dapat mendengar, menjawabnya dengan keyakinan” (Vin.I, 4-7).

MEMILIH MURID
Bhagawa merencanakan mengajar dan mempertimbangkan prioritas agar orang yang dibimbingNya berhasil mencapai kesempurnaan dalam waktu singkat. Calon yang cocok adalah Alara Kalama dan Uddaka (mantan guru Buddha), namun mereka telah meninggal.  Kemudian Bhagawa memilih kelima pertapa teman-Nya dulu di Taman Rusa Isipatana.

PERISTIWA DI TAMAN RUSA ISIPATANA
Kelima teman seperjuangan pertapa pada mulanya tidak percaya kalau Bhagawa telah mencapai penerangan sempurna. Setelah mendengar hal-hal baru yang tidak pernah mereka ketahui sebelumnya, mereka mau menerima petunjuk dari Bhagawa.  Khotbah yang pertama inilah dinamakan Pemutaran Roda Dharma (Dhammacakkappavattana-sutta).

Bhagawa memberikan khotbahnya dengan :
1. memberi petunjuk agar menghindari hal yang ekstrem seperti memanjakan diri, mengumbar nafsu dan menyiksa diri.
2. menggunakan jalan tengah (Majjhima-patipada) yakni memperhatikan keseimbangan yang memberi ketenteraman dan menghasilkan pandangan terang.
3. memahami Empat Kebenaran Mulia : memahami duka, asal mula duka, lenyapnya duka dan jalan melenyapkan duka.
4. memahami prinsip jalan tengah yang disebut juga Jalan Mulia Berunsur Delapan.

BAGAIMANA TERBENTUKNYA SANGGHA MONASTIK (Vin. I, 8-14) ?
Kondanna yang pertama kali berhasil menjadi Sotapanna, mendapat julukan Annata-Kondanna, yang artinya telah mengerti dharma, kemudian memohon kepada Bhagawa untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu. Berturut-turut, Vappa dan Bhaddiya menyusul Mahanama dan Assaji  setelah mempelajari khotbah dharma berikutnya, mereka berhasil mencapai Arahat.

Selanjutnya, bersama dengan Panca Vagiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Sanggha Monastik atau Ariya Sangha Bhikkhu (Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang pertama tahun 588 Sebelum Masehi .

APA MANFAAT ASADHA BAGI KITA?
1. Bagi seorang duta dharma, perlu memiliki semangat misioner sebagaimana Buddha katakan kepada 60 siswa yang berhasil menjadi Arahat untuk membabarkan dharma. “Pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak,  membawa kebahagiaan bagi orang banyak atas dasar kasih sayang terhadap dunia, untuk kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan para dewa dan manusia.”

Selain itu seorang duta dharma dapat membabarkan dharma dan mengajak umat untuk menguji dharma sendiri sejalan dengan tradisi atau latar belakang seseorang terhadap ilmu pengetahuan modern tanpa keinginan mendapat pengikut atau mengubah keyakinan yang sudah dianut seseorang, berbagi pengalaman cara  mengatasi penderitaan hidup, meluruskan pandangan yang salah, membersihkan noda pikiran/batin,  meninggalkan hal-hal yang buruk atau menyedihkan, berusaha untuk bangkit serta bersemangat hingga mencapai sukses kembali, mencapai pencerahan dan kebahagiaan.

2. Bagi seorang perumah tangga atau awam  dapat belajar dharma, mempraktikkan dharma (ehipassiko) dalam setiap aspek di kehidupan sehari-hari agar menjadi  umat Buddhis yang cerdas,  sejahtera,  bijaksana, bahagia dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Belajar agama Buddha perlu praktik agama melalui :
Mengetahui atau mengingat (pariyatti),  melaksanakan (paripatti) dan mencapai  penembusan (pativedha).

Ibarat seorang penderita sakit, ybs tidak bisa sembuh apabila hanya mengetahui, mengingat dan mengucapkan resep-resepnya tanpa membeli obat dan meminumnya. Demikian halnya dengan belajar Buddha dharma, kita perlu menguji kebenaran dharma dari  Empat Jalan Mulia dan Jalan Tengah Beruas Delapan ke dalam problem kehidupan kita sehari-hari.

Proses dan pengalaman mempraktikkan dharma serta memperoleh hasilnya  itulah yang  nantinya yang akan menguji dan menambah keyakinan kita terhadap Buddha dharma serta memberikan kebijaksanaan kepada kita untuk menjadi orang yang lebih tabah, lebih baik, lebih simpati, lebih welas asih, lebih sadar, lebih cerdas, lebih sejahtera dan lebih berbahagia.

Semoga Anda tercerahkan, sadhu, sadhu, sadhu.

Referensi : ceramah dhamma class VEG oleh Dr Krishnanda W. Mukti, Paritta Suci, internet.

Comments

No Comments

Leave a reply

Name *

Mail *

Website